Artikel kepengasuhan DEA #7. Pelanggaran Berawal Dari Tidak Hadirnya Guru.

Pada sesi diskusi training DEA akademi, kami sering mendapatkan pertanyaan tentang pelanggaran santri di pondok pesantren atau ma’had.

Ada kasus perkelahian antara kakak kelas dan adik kelas. Ditemukan santri merokok pada aktifitas out door (sepak bola di lapangan kampung). Ada laporan santri membuang makanan di tempat cuci piring dapur.

Kami berharap pada kesempatan ini 3 (tiga) contoh tersebut mewakili pelanggaran-pelanggaran santri yang disebabkan tidak hadirnya ustadz.

Kita sering mendapati alumni pesantren/ma’had angkatan pertama memiliki kualitas yang bagus dan militan. Seiring berjalannya waktu kualitas angkatan di bawahnya mengalami penurunan.

Kami mencoba menelusuri apa penyebab dari menurunnya kualitas alumni dari masa ke masa. Jawabannya terletak pada kedekatan ustadz dengan para santrinya.

Pada generasi awal, semua aktivitas santri sering didampingi oleh ustadz. Shalat tahajud bersama ustadz sehingga santri yang ngantukan bisa langsung dibantu agar tidak mengantuk saat itu.

Saat jam makan bersama ada ustadz sehingga santri yang mau buang nasi malu karena itu termasuk dalam perbuatan tabdzir. Olahraga lari bersama dengan ustadz membuat  santri tidak berani belok ke warung beli es teh tanpa ijin.

Bermain sepak bola bersama ustadz membuat santri tidak berkelahi meski dijegal kakak kelas karena ustadz hadir menjadi penengah. Belajar malam dibersamai ustadz sehingga belajar menjadi menarik dan tidak disalahgunakan untuk bermain dan begadang.

Bertugas jaga malam dengan ustadz, santri bisa mendapatkan pelajaran dari kisah yang diceritakan oleh ustadz yang bisa jadi cerita tersebut membekas dan menjadi nasehat yang selalu diingat dalam kehidupannya.

Tidak mengherankan jika alumni angkatan pertama/awal di pesantren mampu menjadi generasi unggul. Sebaliknya generasi belakangan yang jarang atau tidak pernah merasakan kebersamaan beraktifitas dengan ustadz cenderung mengalami penurunan kualitas.

Kenapa ada kakak kelas dan adik kelas berkelahi hingga sama-sama babak belur? Sebabnya tidak lain karena ustadz jauh dari santrinya. Bisa jadi jauh lokasi tinggalnya, jauh secara birokrasinya, atau lebih memprihatinkan lagi jauh ikatan hatinya.

Bahkan, lebih menggelikan lagi ada guru yang tidak dikenal namanya oleh santri padahal sudah tinggal di pesantren selama dua tahun. Ini menjadi bukti betapa guru tersebut jarang menyapa dan jarang bergaul dengan santri.

Jauhnya jarak guru dan santri disebabkan juga oleh adanya organisasi santri. Mudabbir telah menggantikan peran ustadz dalam mengatur sekaligus mengasuh. Para ustadz seolah sudah selesai tugasnya dengan menerima laporan kerja dari mudabbir.

Padahal bukan demikian yang seharusnya dan kondisi seperti ini perlu segera diperbaiki.

Tulisan ini kami maksudkan sebagai pengingat bagi kita bersama yang mempunyai tanggungjawab terhadap para santri.

Ustadz! Pulanglah.
Sapalah santri-santrimu. Mereka butuh sosok ayah.

Ustadz! Pulanglah. Mungkin tanggungjawabmu bertambah banyak tapi sempatkanlah membersamai santri dengan nasehat-nasehatmu.

Ustadz! Pulanglah.
Karena orang tua menitipkan santri kepadamu. Bukankah engkau yang menjadi orang tua santri di pesantren?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here