Artikel kepengasuhan DEA #8. Hidup Di Bawah Naungan Bel.

Judul di atas mungkin tidak asing di kalangan teman-teman yang pernah menjadi santri. Jaros, atau bisa kita sebut bel.

Ada bel bangun tidur,jam makan, berangkat sekolah, bahkan bel 3 tahap menuju adzan untuk shalat lima waktu.

Dalam sehari kita sekurang-kurangnya ada 20 kali bel berbunyi.

Fungsi bel di pesantren adalah untuk mengawal kedisiplinan.

Santri diharapkan sudah berada di dalam masjid sebelum adzan berkumandang.

Bel pertama dibunyikan sekitar setengah jam dari waktu adzan. Kedua sekitar 15 menit menuju adzan. Ketiga 5 menit sebelum adzan.

Faktanya, setiap hari ada saja santri yang dipanggil bagian keamanan karena terlambat datang ke masjid untuk shalat berjama’ah. Kira-kira solusinya seperti apa ya?

Ketika liburan tiba, santri diijinkan untuk pulang. Di rumah, santri menghabiskan masa libur bersama orangtua.

Tidak jarang kami mendapatkan curahan hati dari orangtua santri yang mengeluhkan shalat anaknya. “Ustadz, kok anak saya saat dengar adzan tidak bersegera ke masjid?” ada juga yang menyampaikan, “ustadz, kok selama di rumah anak saya susah dibangunkan untuk shalat shubuh?”

Selama ini saya bertanya-tanya, “Apa karena di rumah tidak ada jaros?”

Kalau setiap santri rumahnya dikasih jaros, kira-kira bagaimana ya?

Atau jaros yang ada di pesantren sudah waktunya untuk tidak dibunyikan lagi agar pembiasaan anak di pesantren tidak berbeda dengan kehidupan nyata di rumah?

Yuk! Kita pikirkan bersama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here