Artikel kepengasuhan DEA #10. Berani Mengakui Kesalahan.

Sebagai guru/pengasuh, tidak selamanya dalam posisi yang benar.

Adakalanya kita melakukan kesalahan atau salah dalam memutuskan.

Mengakui kesalahan di hadapan santri/murid tidak akan menurunkan wibawa seorang guru.

Ada sebuah video pendek mengisahkan tentang seorang murid yang biasa datang terlambat.

Jam sudah menunjukan 7.15 saat murid itu masuk kelas, pelajaran sedang berlangsung, pintu perlahan terbuka dan kaki kecil itu melangkah, dunia seolah berhenti berputar dan suara di kelas mendadak hilang entah kemana.

Sambil menghimpun keberanian, murid sekuat tenaga mengeluarkan kata-kata : “maaf Pak, saya terlambat…”.

Bak algojo yang sangar, gurunya hanya berkata : “berikan tanganmu”. Tanpa ragu, guru itu memukul tangan muridnya dengan penggaris sebagai hukuman atas keterlambatannya. Plak!!

Sambil menahan rasa sakit murid telah mendapatkan tiketnya dan diijinkan untuk duduk mengikuti pelajaran.

Bukannya jera, esok harinya murid itu masih mengulangi kesalahannya, dia masih datang terlambat. Sang guru pun kembali memukul tangannya lagi dan lagi, sampai beberapa hari lamanya.

Suatu pagi kira-kira jam 6.30, saat hendak berangkat ke sekolah, sang guru yang tengah mengayuh sepeda mendapati muridnya yang biasa terlambat itu mendorong saudaranya di atas kursi roda menuju sekolah disabilitas.

Murid yang terlambat itu ternyata setiap hari harus mengantar saudaranya terlebih dulu ke sekolah disabilitas, baru lah setelah itu dia bisa berlari dengan kencang menuju sekolahnya sendiri.

Tak disangka apa yang baru saja disaksikan oleh guru itu tentang penyebab keterlambatan muridnya. Setelah mengetahui realita tentang muridnya yang terlambat itu, sang guru tidak lagi memukul tangannya.

Bahkan di hari itu saat murid tersebut datang terlambat, sang guru malah menangis, mencium tangan anak itu dan memeluknya seraya meminta maaf atas apa yang selama ini dilakukannya.

Sang guru telah salah. Ia memberikan hukuman tanpa mencari tahu penyebab anak tadi datang terlambat.

Kami pun juga pernah salah karena tidak tepat waktu. Pada satu sesi training DEA Angkatan 1, tim DEA pernah terlambat 18 menit. Waktu itu, kami berangkat dari kantor pukul 07:20.

Pagi itu hujan mengguyur Solo dan sekitarnya sehingga jalanan lebih padat. Orang yang biasanya naik motor untuk berangkat ke kantor beralih menggunakan mobil.

Selain itu, teman satu mobil kami minta diantar ke kantornya dengan arah berbeda. Selama perjalanan, kami mengabarkan di grup peserta DEA tentang kordinat posisi kami dengan maksud memberi pengertian bahwa kami sedang dalam perjalanan dan sebentar lagi akan sampai di lokasi workshop.

Teman-teman peserta sepertinya memaklumi keterlambatan tersebut.

Sesampainya di lokasi ternyata jam menunjukan pukul 7.48, kami menyampaikan permintaan maaf kepada para peserta workshop DEA, kemudian kami langsung melakukan push up 18 kali sesuai menit keterlambatan.

Walaupun sebelum genap 18 kali ada beberapa peserta yang meminta menyudahinya, kita tetap menggenapkan jumlah itu.

Kenapa tim DEA push up? Bukan kah tim DEA sudah meminta maaf atas keterlambatannya?

Itu semua kami lakukan karena kami menghormati dan menjalankan kesepakatan yang telah dibuat bersama peserta DEA, bahwa siapa saja yang terlambat maka “hadiahnya” adalah push up.

Apakah setelah push up, wibawa tim DEA jatuh? Tidak. Justru yang terjadi peserta semakin respek.

Pengalaman seperti ini juga bisa kami terapkan kepada santri atau anak-anak kami di rumah, yaitu belajar bertanggungjawab, berani mengakui dan meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat.

Siapa pun kita, pasti pernah melakukan kesalahan, dan…

Sikap berani mengakui kesalahan tidak akan menurunkan kewibawaan kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here