Artikel Kepengasuhan DEA #18. Gini aja sudah nolak santri kok.

Perjalanan Dormitory Educator Academy (DEA) dalam program training, mentoring, dan beberapa kunjungan ke pesantren menambah khazanah kami dalam menyelami dunia kepengasuhan.

Owner atau direktur pesantren menerapkan tolok ukur yang beraneka ragam berkaitan dengan perkembangan lembaganya.

Salah satu yang unik adalah statement seperti judul yang kami angkat pada edisi ini. Ya, “gini aja sudah nolak santri”, begitulah standar itu disebutkan.

Apakah pesantren yang menolak santri jaminan bahwa kualitasnya bagus?

Atau jaminan bahwa gurunya berkualitas excellent?

Apakah pesantren yang menolak santri memang benar-benar unggul?

Mindset “gini aja sudah nolak santri kok” menghadirkan zona nyaman. Merasa sudah di puncak sehingga tidak perlu lagi belajar.

Terjebak dalam ke-mandeg-an inovasi. Menutup diri dari perubahan.

Hari ini pesantren menjadi tujuan utama orang tua karena sekolah umum belum mampu memenuhi kebutuhan adab pada kurikulumnya.

Orang pesantren perlu menanggapi sinyal ini dengan terus berbenah dan terus belajar agar mampu memberikan apa yang tidak didapatkan orang tua pada sekolah umum.

Bisa jadi alasan menolak santri karena daya tampung terbatas. Bisa juga menolak santri karena memang hendak memaksimalkan pelayanan dengan sumber daya pengasuh yang ideal.

Namun jika standar “menolak santri” menjadi mindset bahwa pesantren itu sudah bagus dan mencukupkan diri untuk tidak belajar lagi, maka kita tunggu saja.
Apakah tahun depan masih bisa “menolak santri”?

Baca juga: Disiplin Tak Sepantasnya Berubah. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here