Artikel kepengasuhan DEA #17. Jangankan bika ambon, seribu sak semenpun tidak akan mengubah kedisiplinan kami. Sebab, kedisiplinan tak sepantasnya berubah.

Pada materi ‘disiplin’ di training Dormitory Educator Academy (DEA), kami biasa bercerita tentang kisah-kisah nyata di beberapa pesantren yang pernah kami kelola.

Salah satunya adalah kisah seorang wali santri yang juga menjadi sahabat kami hingga hari ini. Dalam suatu perjalan (safar). Kami bersama beliau dan salah seorang wali santri berada dalam satu mobil yang sama.

Ketika itu beliau mengisahkan pengalaman menariknya secara singkat.

“Memang kita berteman (dengan mudir), tapi kalau saya telat mengantar anak ke ma’had, ya dapat hukuman juga anak saya.

Teman, ya teman. Tapi kedisiplinan tetap berlaku.” Katanya.

Begitulah beliau mengisahkan sedikit pengalaman bersama anaknya di ma’had untuk kemudian ditutup dengan gelak tawa kami semua.

Santri dan wali santri akan menjalankan kedisiplinan jika kita/pihak ma’had yang memulai. Jangan pernah berharap disiplin datang dari orang lain.

Guru bilang, “aku ingin disiplin tapi kok mudir begitu?”. Mudir bilang, “aku ingin disiplin tapi kok guruku pada begitu?”.

Sekali lagi, jangan berharap kedisiplinan datang dari pihak lain karena kitalah yang harusnya memulai terlebih dulu.

Kedisiplinan di sebuah pesantren, sekolah, atau pun ma’had bisa luntur dengan hadiah-hadiah dari wali santri yang ditujukan kepada personal guru/pengasuh atau kepada lembaga secara umum.

Hadiah itu bisa berupa kuota internet, bika ambon, bantuan material, semen atau donasi cash. Bisa bermacam-macam bentuknya.

Pimpinan yang baik, mampu mengelola hadiah-hadiah tersebut tanpa perlu mengurangi dosis disiplin dan tetap santun menjaga hubungan baik dengan para wali santri.

By KAFA Institute-Surakarta

(Baca juga: Slow Learner Pun Bisa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here