Artikel kepengasuhan DEA #1. Mengatur dan Mengasuh.

Ada sebuah pertanyaan “Bagaimana mengasuh santri yang sudah duduk di kelas senior seperti niha’i (kelas akhir) dan mudabbir (organisasi santri pondok semacam OSIS) agar tetap taat dengan aturan pesantren?”

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita perlu menjabarkan kata MENGATUR dan MENGASUH.

Pertanyaan diatas mengarah kepada kata MENGATUR. Inti dari pertanyaan tersebut bagaimana agar santri kelas senior taat pada ATURAN pesantren. Mengatur dan aturan berakar dari kata ‘atur’. Sementara mengasuh berakar dari kata ‘asuh’.

Pesantren modern rata-rata menggunakan santri kelas lima sebagai mudabbir untuk membantu dewan guru asrama mengatur santri adik kelas.

Pada level ini santri mendapatkan tugas sesuai bagian yang ada, seperti, bahasa, keamanan, kebersihan (K3), konsumsi, olah raga, serta pengurus harian yang terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara.

Tujuan dibentuknya mudabbir adalah untuk membantu santri belajar berorganisasi. Di atas mudabbir, ada kelas niha’i (santri kelas akhir).

Fakta di lapangan mengatakan bahwa santri pada level mudabbir dan niha’I justru semacam pihak yang kebal aturan. Saat santri kelas 1-4 terdampak efek dari melanggar aturan, dua level ini bisa selamat seolah mereka ‘kebal hukum’. Bagaimana solusi dari fakta tersebut?

Berikut kami sajikan 7 hal yang membedakan antara mengatur dan mengasuh. Semoga bisa menjawab.

1) Target
Target dari mengatur adalah agar santri tidak melanggar. Guru dianggap sukses mengatur jika santri sudah tidak ada yang melanggar atau taat pada aturan yang berlaku.

Sedangkan target mengasuh adalah bagaimana santri melakukan yang seharusnya. Misalnya santri yang ke masjid sebelum adzan bukan karena takut dihukum saat telat, tapi karena memang seorang muslim harus seperti itu untuk mendapatkan fadhilah do’a berangkat ke masjid, sempat menjawab adzan, sempat berdo’a antara adzan dan iqomah, sempat mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid dan rawatib, dan berkesempatan takbiratul ihram bersama imam.

Mengasuh adalah bentuk penanaman adab atau karakter seorang muslim dan tidak hanya sekedar agar santri tidak melanggar.

2) Hukuman
Dalam konsep mengatur, hukuman adalah solusi agar santri merasa jera dan ujungnya tidak melakukan pelanggaran terhadap aturan pesantren.

Sementara mengasuh menjadikan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendidik santri menjadi lebih baik. Bahkan solusi dari sebuah pelanggaran bisa jadi tidak dihukum.

Dalam konsep mengasuh, santri yang jujur mengakui kesalahannya akan mendapatkan penghargaan atas kejujurannya dan tidak dihukum. Santri yang terbukti mengambil barang temannya karena terpaksa dan ia butuh maka solusinya adalah dipenuhi kebutuhannya tersebut.

3) Pendekatan
Mengatur sering menggunakan pendekatan hitam di atas putih yang bersumber dari buku peraturan pesantren.

Mengasuh menggunakan pendekatan yang situasional sesuai dengan fakta dan kejadian di lapangan.

4) Kedisiplinan
Dalam konsep mengatur, disiplin harus dijalankan walau tidak didukung keteladanan dari pihak yang lebih senior.

Dalam konsep mengasuh, disiplin lahir dari keteladanan senior. Prinsipnya, tidak ada kesuksesan tanpa kedisiplinan. Dan tidak ada kedisiplinan tanpa keteladanan.

5) Kejujuran
Konsep mengatur mengharuskan santri kelas 1-4 bertindak jujur.

Konsep mengasuh menjadikan guru bertindak sesuai dengan yang disampaikan atau dijanjikan. Jika ada santri yang melanggar dan diminta untuk mengatakan dengan jujur tidak akan dihukum maka guru menepati hal itu. Apabila guru berjanji memberikan sesuatu saat ia pulang safar, maka ia benar-benar menepatinya dan tidak lupa dengan janji itu.

6) Dalam menghadapi permasalahan
Konsep mengatur seringnya menjadikan santri sebagai actor yang susah diarahkan karena setiap saat ditemukan santri melanggar. Dari beberapa pertanyaan di training kepengasuhan DEA Akademi, kami banyak mendapati jenis pertanyaan bagaimana menangani santri melanggar ini dan itu.

Konsep mengasuh menjadikan guru untuk senantiasa menginstropeksi diri. Jika ada santri melanggar maka bertanya pada diri apa yang salah dari saya? Apa saya belum layak menjadi seorang teladan? Apa saya kurang dalam mengontrol? Apa saya kurang dalam membersamai santri? Apa saya terlalu sibuk di luar sehingga abai dengan kegiatan Bersama santri?
7) Hubungan
Konsep mengatur mengedepankan atasan dan bawahan. Antara mudabbir (pengatur) dan a’dho’ (yang diatur). Antara guru dan santri.
Konsep mengasuh menjadikan hubungan seperti dalam keluarga. Adik kelas dan kakak kelas layaknya saudara dalam keluarga. Guru dan santri layaknya ayah dan anak di rumah.

Sehingga saat santri sudah lulus masih terjalin hubungan sahabat sepanjang hayat. Tidak lagi terjadi memposisikan mantan kakak kelas sebagai musuh karena dulu pernah terdholimi.

Mengatur dan mengasuh tidak bisa dipisahkan. Keduanya merupakan paket yang perlu dijaga dosisnya agar sesuai saat digunakan.

Melepas santri mudabbir untuk mengatur adik kelas dengan segala kewenangannya hanya akan menghasilkan ‘balas dendam’ tak berkesudahan karena konsep yang digunakan acuan adalah peraturan.

Sebaiknya hadirnya guru sebagai teladan sangat dibutuhkan untuk sering-sering membersamai santri dalam setiap aktifitas. Akhirnya senioritas, bully, dan tindakan pelanggaran bisa diminimalisir.

Guru yang mampu menjadi teladan secara tidak langsung mewariskan karakter disiplin, jujur, bertanggungjawab, peka, dan bersahabat. Mengasuh adalah bagian dari mewariskan generasi. Jika memang cukup ditangani oleh guru maka biarkan santri senior itu focus belajar saja.

Mari belajar lebih lengkap tentang ilmu mengatur dan mengasuh disini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here