Artikel kepengasuhan DEA #3. Bangga Menjadi Pengasuh.

Sebagai seorang pengasuh, kita seharusnya termotivasi

dengan menggantungkan harapan untuk mendapatkan kabar gembira yang dijanjikan Allah melalui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sebagai berikut:

1. Mendapat do’a baik dari santri
Pengasuh yang mampu menjadi orang tua bagi santri.

Pengasuh yang hadir saat mereka susah, sedih, terpojok, atau saat menanggung beban berat untuk mendengar curahan hati mereka kemudian mengajaknya bangkit.

Pengasuh yang memahami santri dan menampakan kepedulian diantaranya dengan menanyakan kabar kedua orangtua mereka.

Menurut pengalaman kami di pesantren, pengasuh seperti itu mendapatkan tempat khusus di hati para santri.

Mereka merasa dekat dengan pengasuh-pengasuh itu hingga tersebutlah dalam do’a-do’a mereka agar gurunya senantiasa sehat, mendapatkan keselamatan dunia akhirat, dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Bahkan kami mendengar dari sebuah pesantren, bahwasanya ada seorang pengasuh yang jadi mantu (kakak perempuan santri dimaksud) dari wali santri.

Menurut wali santri tersebut, si pengasuh memberikan pengaruh baik bagi anak lelakinya sehingga ia ingin menikahkannya dengan kakak perempuannya.

Ternyata beberapa wali santri lain di kamar itu memiliki keinginan serupa dengan bapak tersebut disebabkan rasa puas mereka terhadap pelayanan si pengasuh pada anak-anak mereka.

2. Mendapat yang lebih baik dari unta merah
Dari Sahl bin Sa’d Radhiyallaahu ‘Anhu bahwa Rasulullaah Shollallaahu ‘Alaihi wa Sallaam pernah bersabda:
فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِداً، خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
“Demi Allah, jikalau Allah memberi hidayah kepada satu orang dengan sebab dirimu, hal itu benar-benar lebih baik bagimu daripada unta-unta merah.” [Muttafaqun Alaihi]

Bisa jadi hidayah hadir dari bersihnya kamar asrama. Calon santri yang semula tidak mau masuk pesantren, menjadi mau setelah melihat bersih dan rapinya asrama sehingga memungkinkan ia (santri) menjadi lebih baik ke-Islamannya setelah lulus.

Budaya bersih dan rapi yang kita tanamkan menjadi sebab calon santri mantab menuntut ilmu di pesantren. Bukankah ini termasuk dari ‘unta merah?’

3. Mendapat pahala ‘ilman nafi’an
Beberapa santri baru, ada yang belum bisa mandiri dalam hal yang mungkin kita anggap remeh seperti: mencuci baju, mengenakan sarung, melipat baju, memasang sprei, menyetrika, dan lain sebagainya.

Pengasuh/guru yang sabar dan telaten mengajarkan itu semua kemudian santri tersebut bisa dan melakukan sesuai dengan yang ia fahami dari pengasuh/guru tersebut, bukankah itu yang disebut ‘ilman nafi’an?

4. Bisa jadi tangan-tangan santri itu yang menarik guru ke jannah
Umur kita sebagai manusia terbatas sementara amal kita tidak tahu seberapa banyak yang sudah terkumpul hingga ajal menjemput. Itu pun bukan jaminan bisa selamat dari pengadilan akhirat.

Dengan menjadi pengasuh teladan dan maksimal melayani santri, setidaknya kita memiliki peluang mendapatkan syafa’at dari anak didik kita yang mendapat nikmat Jannah.

Sehingga kita harapkan kelak mereka akan mencari dan menarik kita untuk bersama menuju pintu kebahagiaan abadi.

(Baca: Menjadi Teladan Bagi Anak Didik )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here