Artikel kepengasuhan DEA #4. Mendidik Seperti Menerbangkan Layang-Layang.

Tarik kencang agar terbang tinggi. Ulur benang agar tidak putus.

Kita, baik sebagai guru atau sebagai orangtua, yang memiliki tugas mendidik generasi-generasi yang akan datang ibarat menerbangkan layang-layang.

Artinya jika kita terus tarik ketat, maka layang-layang itu akan putus.

Namun untuk membentuk kedisiplinan, kita perlu menarik layang-layang dengan ketat. Namun jika terlalu ketat, ia akan putus.

Maka kendorkanlah. Berikanlah rileks. Berikanlah santai. Santai itu penting. Rileks itu penting. Penting diulurkan benang itu agar ia bisa tarik nafas dan terbang lebih tinggi lagi.

Ini adalah permisalan/contoh yang baik bagi kita orangtua atau guru yang mendidik anak-anak. Hal ini juga perlu diperhatikan untuk mudir atau kepala sekolah yang membimbing guru-guru muda.

Untuk guru jangan terus tarik benang dengan tugas, tugas, dan tugas karena mereka akan “putus”. Jangan pula kendorkan benang sehingga mereka tidak “terbang”.

Tariklah benang agar bisa terbang dan ulurlah benang seperlunya agar ia semakin tinggi.

(Baca: Berani Mengakui Kesalahan)

Kami biasa menyampaikan pesan ini pada moment morning spirit. Semua santri dan guru mendapatkan pesan yang sama.

Masa-masa setelah liburan adalah waktu yang tepat untuk menarik benang karena guru dan santri baru saja merefresh diri.

Setelah sebulan program berjalan, saatnya guru dan santri untuk dikendorkan benangnya agar kesuntukan dan kepenatan menurun.

Kita biasa mengendorkan benang dengan hiking, masak bareng, camping, outbound atau berekreasi.

Untuk pesantren tahfizhul qur’an masa sebulan itu sudah memasuki kondisi penat yang mulai memuncak, sehingga butuh diberikan jeda untuk rileks agar saat melanjutkan aktivitas/rutinitas selanjutnya dapat kembali melakukannya dengan penuh semangat.

Ulur dan longgarkan benangmu agar engkau semakin terbang tinggi!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here