Artikel kepengasuhan DEA #11. Bullying, Mengapa Bisa Terjadi?

Bullying atau dalam bahasa Indonesia disebut perundungan, penindasan, pengucilan selalu menjadi pembahasan dalam 10-15 tahun terakhir.

Sebelum itu, kata bully belum populer walaupun secara praktik sudah ada.

Orang tua yang hendak mendaftarkankan anaknya ke pesantren sering menanyakan kepada pengasuh, “ustadz disini sering tejadi bully nggak?”

Hal itu sebenarnya wajar karena orangtua ingin anaknya segera beradaptasi dan merasa nyaman tinggal di pesantren tanpa dibully santri lain.

Mengapa bullying terjadi?

Pertama, karena lemahnya edukasi dari pihak pesantren untuk menanamkan kebiasaan menyayangi yang lebih kecil dan menghormati yang lebih besar.

Edukasi ini dilakukan secara berulang dan terus menerus hingga santri mampu mengaplikasikannya dalam perilaku keseharian.

Cara kami untuk mempraktikkan budaya sayang kepada adik kelas dan hormat kepada kakak kelas adalah dengan cara menempatkan santri lintas kelas ke dalam kamar.

Satu kamar berisi 10 orang, terdiri dari santri kelas VII SMP hingga kelas XII SMA.

Guru/pengasuh juga perlu memberikan pemahaman kepada santri bahwa bully bukanlah sesuatu yang mengerikan.

Manusia terbaik, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam pernah merasakan bully dari musyrikin quraisy mulai dari dilempari dengan batu, dilempari kotoran, dituduh sebagai orang gila, diboikot, dikucilkan, diteror pembunuhan.

Guru/pengasuh perlu mengajarkan kepada santri untuk berjiwa besar dalam menghadapi bully yang lebih receh dari apa yang menimpa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam.

(Baca juga: Bangga Menjadi Pengasuh)

Kedua, guru/pengasuh jarang membersamai santri di luar jam formal.

Untuk melawan bully, guru/pengasuh tidak hanya hadir saat tatap muka di kelas (mengajar), di program tahfizh (menyimak), atau di program ekstra kurikuler saja.

Ia senantiasa menyediakan waktu untuk santri di luar jam formal untuk mendengarkan keluh kesah santri, bercerita tentang kisah-kisah inspiratif atau hanya sebatas ngobrol ringan membangun kedekatan.

Dari situlah peluang santri untuk melakukan bully menjadi semakin sedikit.

Ketiga, suburnya budaya senioritas. Budaya ini sering muncul akibat adanya kakak kelas yang pada level tertentu mendapatkan hak mengatur dan menghukum santri.

Awalnya hal ini dilakukan untuk melatih santri berorganisasi, namun kenyataannya kewenangan itu disalahgunakan sebagai ajang balas dendam karena dulu selama beberapa tahun sering dihukum oleh kakak pengurus.

Giliran generasinya yang mengatur maka mereka menggunakan kesempatan itu.

Ingat! Bully terjadi bukan semata-mata karena ada niat dari pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan! Waspadalah! Waspadalah!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here