Baik, untuk kasus-kasus seperti ini sebenarnya harus ada langkah-langkah untuk mengantisipasinya, di antaranya adalah:
1). Siswa atau santri — yang jelas berawal dari guru ya — sudah ditanamkan makna kejujuran.
Artinya, anak-anak sudah dibimbing, diarahkan tentang konsep hidup jujur. Jujur menghantarkan seseorang menjadi baik, kemudian baik menghantarkan seseorang masuk ke dalam jannah. Dan apabila seseorang melazimi kejujuran, akan dicap oleh Allah SWT sebagai orang yang shiddiqin.
Hadits ini dalam penerapannya mungkin seperti ini. Misalnya, jujur yang aplikatif. Maksud dari jujur aplikatif adalah kita bawakan kisah-kisah dulu dalam kehidupan nyata kita.
Misalnya kisah tentang seorang wanita yang hidup bersama ibunya di masa Umar. Ketika ada kasus pencampuran air dengan susu, maka ada satu ungkapan dari ibunya. Walaupun hal itu belum dilakukan, ibunya mengatakan:
“Jika kita mencampur air susu dengan air, kan Umar tidak melihat apa yang kita lakukan.”
Maka anaknya mengungkapkan kalimat:
“Jika Umar tidak melihat, tapi Rabb-nya Umar Maha Melihat.”
Maka konsep aplikatifnya itu misalnya seperti ini.
Ada siswa di dapur, tidak ada guru di situ. Kemudian ketika dia ingin menyembunyikan lauknya di bawah nasi, maka katakan kepada mereka:
“Guru kalian memang tidak melihat, tapi Rabb-nya guru Maha Tahu.”
Kemudian kalau dia di kamar mandi, lalu dia mengambil odol milik temannya, katakan kepada mereka:
“Yang punya odol memang tidak tahu, tapi Rabb-nya yang punya odol mengerti.”
Dan yang seperti ini dijabarkan. Termasuk ketika kamu pura-pura haid, guru percaya kamu haid, guru tidak tahu kamu bohong, tapi Rabb-nya guru Maha Tahu.
Ini konsep pertama.
2). Kami dulu melakukan aktivitas setiap bulan.
Anak ada laporan di amal yaumi tentang masa haid mereka. Jadi misalnya bulan Agustus, maka tanggal berapa sampai tanggal berapa.
Ustadzah itu punya data mereka. Ketika kita butuhkan juga cepat terdeteksi karena memang ada data mereka, yaitu jadwal haid mereka.
Ketika anak normal sekian hari, tetapi kalau sudah lebih dari hari biasanya, maka dia diperiksakan ke dokter, karena bisa jadi ini adalah penyakit. Artinya, itu bagian dari pelayanan kita untuk mendeteksi mereka sakit atau tidak, karena waktu haidnya lama.
Di pesantren kami, mereka kami wajibkan mempunyai softex/pembalut yang bisa dicuci ulang dari kain, sehingga setiap anak yang haid nanti mencuci itu dan menjemur, sehingga bisa terdeteksi dengan mereka mencuci dan menjemur.
Ada satu cara agar kami mudah mendeteksi anak yang haid atau tidak, yaitu dia harus berangkat ke masjid atau mushalla di waktu shalat.
Walaupun nanti yang tidak shalat berada di luar, tetapi dia membaca buku atau melakukan aktivitas baik yang lain. Termasuk juga mungkin dia menjaga temannya yang sedang shalat dari gangguan-gangguan luar.
Jadi ketika semua diwajibkan ke masjid, maka tidak akan muncul kemalasan.
Kenapa kami mencoba menyuruh mereka ke masjid semua?
Karena ada kasus di beberapa tempat, siswanya tidak bohong. Jadi ketika dibangunkan untuk shalat Subuh:
“Bangun-bangun…”
Dia yang sedang tidur itu mengatakan:
“Saya lagi tidak shalat.”
Dia bukan mengatakan, “Saya lagi haid,” tapi “Saya lagi tidak shalat.”
Ketika dia mengatakan “Saya lagi tidak shalat,” si guru menganggap:
“Oh, anak ini lagi haid.”
Padahal dia betul dan tidak berbohong karena dia memang sedang tidur.
Nah, untuk menghindari hal-hal itu, maka shalat atau tidak, haid atau tidak haid, dia harus berangkat ke masjid.
Ada pendataan jadwal haid, kemudian ada penggunaan, mencuci, dan menjemur softex/pembalutnya.
Teknik-teknik ini yang nantinya akan membuat anak tidak bisa berdusta, seperti itu.
Tapi biasanya kalau sudah dibekali tentang makna kejujuran, mudah-mudahan hal ini bisa menghilangkan kasus seperti itu.
Tapi kami juga menerapkan sampai ke tingkat yang berikutnya.
Intinya bagi saya, atau kita, dengan izin Allah SWT bisa membimbing anak-anak untuk menjadi lebih baik, salah satunya dengan berikhtiyar semaksimal mungkin.
Tanamkan kejujuran, kemudian suruh berangkat ke masjid atau mushalla, kemudian suruh menggunakan softex yang terbuat dari kain yang bisa dicuci, kemudian jadwal haidnya harus terdata semuanya.
Baarakallaahu fiikum.