Kalau kita tidak memberlakukan piket kamar mandi, maka yang diberlakukan adalah sistem penghuni kamar mandi. Konsepnya seperti keluarga. Misalnya ada 10 kamar mandi dan 60 orang, berarti satu kamar mandi untuk 6 orang dan dibagi jelas siapa penghuninya.
Setelah itu, sampaikan manajemen keuntungan tentang kebersihan kepada setiap anak, baik secara umum maupun kelompok. Katakan: “Kamar mandimu adalah kepribadianmu. Kamar mandimu mencerminkan penghuninya.”
Artinya, jika kamar mandi sudah dibagi, maka siapa pun—sekepepet apapun—tidak boleh masuk kamar mandi yang bukan bagiannya. Itu harus tegas sejak awal.
Di setiap kamar mandi disediakan peralatan kebersihan: sikat bulat, sikat lantai, atau beberapa jenis sesuai kebutuhan. Peralatan digantung rapi, tidak di lantai, tidak terlalu tinggi. Dengan begitu, kalau ada kotoran sedikit, bisa langsung disikat. Tidak perlu ada niat khusus, karena alat sudah siap di tempatnya.
Setelah pembagian, peralatan ada, lalu penyampaian tentang pentingnya bersih dijadikan aktivitas harian. Selanjutnya murabbi atau musyrif hadir untuk mengontrol secara rutin. Misalnya, setelah jam pagi sebelum sekolah, cek dulu: kamar mandi mana yang baunya tidak enak, mana yang warnanya tidak pas.
Kalau dikontrol setiap hari, akan ketahuan siapa yang rajin membersihkan dan siapa yang tidak. Ketika manajemen keuntungan diterapkan, peraturan ketat sebenarnya tidak dibutuhkan. Karena sesuatu yang awalnya terasa sebagai kewajiban, akan berubah menjadi kebutuhan.
Asalnya piket itu wajib. Tapi berikutnya mereka akan berlomba-lomba meraih keutamaan dari menjaga kebersihan. Karena “wa manyya‘mal mitshqāla dharratin khairan yarah.”
Ada kaidah sederhana: apabila kamu belum bisa membersihkan, maka jangan mengotori.
Munkin begitu dulu keterangan yang bisa saya sampaikan
Baarakallahufiikum.