Ini pertanyaan yang sering muncul. Dalam ilmu manajemen ada istilah top down (instruksi dari atasan ke bawahan) dan bottom up (bawahan bertanya atau memberi masukan ke atasan).
Mari lihat kasus di lapangan. Misalnya, kita tahu bahwasanya salah satu makna disiplin adalah menjalankan kesepakatan. Kalau kesepakatannya masuk jam tujuh, maka itu yang harus dilaksanakan. Tetapi bagaimana kalau yang melanggar justru atasan, bahkan guru senior, sementara bagian penertiban absensi adalah guru-guru muda yang notabene muridnya dulu?
Di sinilah pentingnya manajemen “pakewoh”. Maksud dari manajemen pakewoh adalah tetap menjaga hormat, tapi bisa menyampaikan dengan cara yang baik. Caranya bukan dengan menegur langsung, melainkan dengan bertanya.
Langkahnya seperti ini:
-
Minta waktu untuk konsultasi.
Misalnya bilang, “Ustadz, kapan ada waktu? Saya ingin sharing, minta arahan, dan lain-lain.” Nanti mesti akan ditentukan waktunya kapan, tepatnya di mana, dan hari apa. -
Datang sesuai waktu yang ditentukan.
Sampaikan dengan bahasa yang santun, misalnya, “Ustadz, saya butuh bimbingannya,” bukan dengan cara menegurnya, tapi dengan bahasa merendah. -
Gunakan pendekatan belajar.
Contoh:
“Ustadz, saya diamanahi untuk mendisiplinkan para guru agar tepat waktu. Saya minta arahan dari Ustadz bagaimana cara mendisiplinkan guru-guru senior, karena saya masih kurang pengalaman dan khawatir tidak sopan. Misalnya ada guru matematika (padahal yang mengampu matematika adalah beliau) yang kadang terlambat 5–10 menit, bagaimana sebaiknya kami menyikapinya?”
Yang kita maksud guru matematika itu adalah beliau, karena beliau sering terlambat. Maka secara halus ia akan merasa tersindir, tapi tetap terhormat. Biasanya ia akan merespons dengan ringan, misalnya dengan mengatakan, “Silakan, akhii dimakan jamuannya,” atau komentar lain yang menunjukkan ia menyadari situasi tersebut.
Di beberapa tempat, cara ini sudah dicoba dan terbukti manjur. Intinya, sampaikan melalui manajemen pakewoh dengan bahasa menyindir tapi sopan, dan tanpa menjatuhkan harga dirinya.
Munkin begitu dulu jawaban yang bisa kami berikan.
Baarakallahufiikum…



